Senja Di Pelabuhan Kecil
(Buat Sri Ajati)
Ni kali tidak ada yang mencari cinta
Diantara gudang, rumah tua, pada cerita
Tiang serta temali . kapal perahu tiada berlaut
Menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelapak elang
Menyinggung muram, desir hari lagi berenang
Menemu bujuk pangkal akanan tidak bergerak
Dan kini tanah dan air tidur hilang ombak
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
Menyisir semenanjung, masih pengap harap
Sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
Dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
Kahlil Gibran
Cinta Yang Agung
Adalah ketika kamu menitikkan air mata dan masih peduli terhadapnya…
Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih menunggunya dengan setia..
Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum sembari berkata ‘Aku turut bahagia untukmu’ Apabila cinta tidak berhasil…
Bebaskan dirimu …
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas lagi
Ingatlah…
Bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya …
Tapi…
Ketika cinta itu mati..
Kamu tidak tidak perlu mati bersamanya…
Orang terkuat bukan mereka yang selalu menang..
Melainkan mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh
Taufik Ismail
Dengan Puisi, Aku
Dengan puisi aku bernyanyi…
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta…
Batas cakrawala
Dengan puisi aku mengenang…
Keabadian yang akan datang
Dengan puisi aku menangis…
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk…
Nafas jaman yang busuk
Dengan puisi aku berdo’a…
Perkenankanlah kiranya
Hartoya Andangjaya
Perempuan-Perempuan Perkasa
Perempuan-perempuan yang membawa bakul, dari manakah mereka
Ke stasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa
Sebelum peluit kereta pagi terjaga
Sebelum hari bermula dalam pesta kerja
Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta, kemanakah mereka
Di atas roda-roda baja mereka berkendara
Mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota
Merebut hidup di pasar-pasar kota
Perempuan-perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka
Mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa
Akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota mereka ;
Cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa
No comments:
Post a Comment