Sunday, November 27, 2011

Puisi Kiriman Teman ( 3 )

DINA RICHLAYANI
DIA                                                                                                                                                                                                                                                       Dulu aku mengira dia adalah utusan Tuhan untukku
Pengganti sekian cinta yang pernah tumbuh dan hilang dalam hati
Dulu pula aku selalu menyebut namanya
Membayangkan Dia adalah bapak putra-putriku

Namun ...
Delapan belas hari yang lalu, saat aku menerima pesannya,
Rangkaian kata-katanya yang santun seperti biasa,
Tiba-tiba meluluh lantahkan mimpiku,
Merobek angan-anganku,
Memblokir semua asa yang pernah aku bangun
Dan mengusir semua yang ada dalam imajinasi liarku

YA ... hanya dengan sebuah kalimat
"Kita berteman saja"
BOOOOOMMMM!!!!
Syarafku meledak saat itu juga

Diamku ia terjemahkan keangkuhanku
Senyumku ia artikan kemunafikan
Dan cintaku ia kira hanya mainan

Aku ... DIAM
Hanya diam dalam seribu bahasa

Kini ...
Dinding-dinding kokoh menjulang tinggi
Pagar-pagar besi lagi berkawat
Dan bodyguard-bodyguard anti cinta
Menjaga relung hati yang terdalam.

Aku bukan Dewi Cinta
Bukan pula Perawan Cinta
Apalagi Pemburu Cinta
Aku hanya insan biasa
Yang ingin mencinta dan dicinta Dia.


DINA RICHLAYANI 
TERLUKA TANPA DARAH

Tahukah kamu?
Saat kau memilih wanita itu,
Ada dinding kokoh lagi menjulang tinggi
Runtuh saat itu juga

Dinding yang selama ini berdiri di atas keangkuhan dan keegoisan kita
Dinding yang selama ini menjadi penjaga agar kita tidak berzina

Tahukah kamu?
Saat kau mengikat perkawinan dengan wanita sholihat itu,
Ada segumpal darah dalam nadi ingin kurengkuh paksa
Demi sebuah nyawa
Nyawa yang aku jamin bila kau memilikinya
Akan ada keabadian mahligai cinta

Tahukah kamu?
Saat kau bersanding dengannya,
Aku kecewa!
Kecewa pada mandat Tuhan!
Kecewa pada garis tangan!
Dan kecewa pada kenyataan!

Aku tahu
Semua tidak dapat diramalkan
Pun perkawinan!
Tapi kenapa?
Kenapa harus kau dan aku?

Jangan kau kira aku sekuat baja
Hanya karena tak ada genangan airmata
Aku hanya tak rela
Butir airmata ini jatuh
Hanya demi kesedihan bukan Maha Dahsyat
Hanya demi sosok tidak berjiwa malaikat
Meski kini aku terluka tanpa darah...

 

DINA RICHLAYANI
KASET

Tiga puluh satu tahun kurekam jejakmu
Dalam kaset memoriku
Suatu masa pasti akan usang
Namun kenangan indah ingin kukenang
 

Tiga puluh satu tahun 
Kuambung aromamu                                                                
Dalam peluk hangat
Dalam dekat isyarat anak                                                         
Jatuhmu, aku bangun
Jatuhku, terseokmu
Rangkul dekap puberku

Dua puluh lima tahun;
Kuputar kasetku
Tawa riang khas anak,jeritan, tangisan diaduk hangat,
Mengalir mengusir hausku
Rindu masa itu;

Lima tahun;
Kuputar ragu kasetku
Ada tungku api, menjilat-jilat panasnya
Ingin kubuang, kubakar ,biar hilang, biar  hangus aromanya

Pita kasetku menipis
Satu tahun terakhir aku menangis tanpa airmata
Dadaku sesak penuh gelora api membara

Bayang kecilku menjauh
Lalu menghilang…
Mungkin sembunyi  dibalik lara

Aku ingin teriak, berlari
Mencuci najis dengan enam siraman dan satu tanah
Tiga puluh satu tahun aku merekam

2 comments:

  1. Sebelumnya, trm ksh buat Ibu Dina Richlayani atas kepercayaan puisinya tuk ada di blog aku.

    Puisi Dia : Ada kemarahan yg tertuang karena kesetiaan di balas cuma dng kegampangan mempermainkan perasaan yg selama ada

    Puisi Terluka tanpa darah : Mengharukan, ternyata takdir lebih kuat dari cinta yg pernah ada di dua hati

    Puisi Kaset : seperti ada dendam dan geram yg dasyat, sampai disamakan dng najis berat

    ReplyDelete
  2. 3 puisi dengan permainan kata yang sempurna :)
    Sarat emosi, gak ada satu bait pun yang missed
    Hmm,
    Coba kalo ada satu bait yg maknanya "Semoga saja ini terbaik bagimu"
    Satu kalimat yg bisa meredam amarah+rasa kecewa menjadi ikhlas, karena memang bukan kita yg harus mengemis meminta sebuah keadilan, keputusan Tuhan lah keadilan untuk kita :)
    Puisi yang bagus Bu Dina :)
    Salam kenal

    ReplyDelete