DINA RICHLAYANI
DIA Dulu aku mengira dia adalah utusan Tuhan untukku
Pengganti sekian cinta yang pernah tumbuh dan hilang dalam hati
Dulu pula aku selalu menyebut namanya
Membayangkan Dia adalah bapak putra-putriku
Namun ...
Delapan belas hari yang lalu, saat aku menerima pesannya,
Rangkaian kata-katanya yang santun seperti biasa,
Tiba-tiba meluluh lantahkan mimpiku,
Merobek angan-anganku,
Memblokir semua asa yang pernah aku bangun
Dan mengusir semua yang ada dalam imajinasi liarku
YA ... hanya dengan sebuah kalimat
"Kita berteman saja"
BOOOOOMMMM!!!!
Syarafku meledak saat itu juga
Diamku ia terjemahkan keangkuhanku
Senyumku ia artikan kemunafikan
Dan cintaku ia kira hanya mainan
Aku ... DIAM
Hanya diam dalam seribu bahasa
Kini ...
Dinding-dinding kokoh menjulang tinggi
Pagar-pagar besi lagi berkawat
Dan bodyguard-bodyguard anti cinta
Menjaga relung hati yang terdalam.
Aku bukan Dewi Cinta
Bukan pula Perawan Cinta
Apalagi Pemburu Cinta
Aku hanya insan biasa
Yang ingin mencinta dan dicinta Dia.
DIA Dulu aku mengira dia adalah utusan Tuhan untukku
Pengganti sekian cinta yang pernah tumbuh dan hilang dalam hati
Dulu pula aku selalu menyebut namanya
Membayangkan Dia adalah bapak putra-putriku
Namun ...
Delapan belas hari yang lalu, saat aku menerima pesannya,
Rangkaian kata-katanya yang santun seperti biasa,
Tiba-tiba meluluh lantahkan mimpiku,
Merobek angan-anganku,
Memblokir semua asa yang pernah aku bangun
Dan mengusir semua yang ada dalam imajinasi liarku
YA ... hanya dengan sebuah kalimat
"Kita berteman saja"
BOOOOOMMMM!!!!
Syarafku meledak saat itu juga
Diamku ia terjemahkan keangkuhanku
Senyumku ia artikan kemunafikan
Dan cintaku ia kira hanya mainan
Aku ... DIAM
Hanya diam dalam seribu bahasa
Kini ...
Dinding-dinding kokoh menjulang tinggi
Pagar-pagar besi lagi berkawat
Dan bodyguard-bodyguard anti cinta
Menjaga relung hati yang terdalam.
Aku bukan Dewi Cinta
Bukan pula Perawan Cinta
Apalagi Pemburu Cinta
Aku hanya insan biasa
Yang ingin mencinta dan dicinta Dia.
DINA RICHLAYANI
TERLUKA TANPA DARAH
Tahukah kamu?
Saat kau memilih wanita itu,
Ada dinding kokoh lagi menjulang tinggi
Runtuh saat itu juga
Dinding yang selama ini berdiri di atas keangkuhan dan keegoisan kita
Dinding yang selama ini menjadi penjaga agar kita tidak berzina
Tahukah kamu?
Saat kau mengikat perkawinan dengan wanita sholihat itu,
Ada segumpal darah dalam nadi ingin kurengkuh paksa
Demi sebuah nyawa
Nyawa yang aku jamin bila kau memilikinya
Akan ada keabadian mahligai cinta
Tahukah kamu?
Saat kau bersanding dengannya,
Aku kecewa!
Kecewa pada mandat Tuhan!
Kecewa pada garis tangan!
Dan kecewa pada kenyataan!
Aku tahu
Semua tidak dapat diramalkan
Pun perkawinan!
Tapi kenapa?
Kenapa harus kau dan aku?
Jangan kau kira aku sekuat baja
Hanya karena tak ada genangan airmata
Aku hanya tak rela
Butir airmata ini jatuh
Hanya demi kesedihan bukan Maha Dahsyat
Hanya demi sosok tidak berjiwa malaikat
Meski kini aku terluka tanpa darah...
DINA RICHLAYANI
KASET
Tiga puluh satu tahun kurekam jejakmu
Dalam kaset memoriku
Suatu masa pasti akan usang
Namun kenangan indah ingin kukenang
Tiga puluh satu tahun
Kuambung aromamu
Dalam peluk hangat
Dalam dekat isyarat anak
Tiga puluh satu tahun kurekam jejakmu
Dalam kaset memoriku
Suatu masa pasti akan usang
Namun kenangan indah ingin kukenang
Tiga puluh satu tahun
Kuambung aromamu
Dalam peluk hangat
Dalam dekat isyarat anak
Jatuhmu, aku bangun
Jatuhku, terseokmu
Rangkul dekap puberku
Dua puluh lima tahun;
Kuputar kasetku
Tawa riang khas anak,jeritan, tangisan diaduk hangat,
Mengalir mengusir hausku
Rindu masa itu;
Lima tahun;
Kuputar ragu kasetku
Ada tungku api, menjilat-jilat panasnya
Ingin kubuang, kubakar ,biar hilang, biar hangus aromanya
Pita kasetku menipis
Satu tahun terakhir aku menangis tanpa airmata
Dadaku sesak penuh gelora api membara
Jatuhku, terseokmu
Rangkul dekap puberku
Dua puluh lima tahun;
Kuputar kasetku
Tawa riang khas anak,jeritan, tangisan diaduk hangat,
Mengalir mengusir hausku
Rindu masa itu;
Lima tahun;
Kuputar ragu kasetku
Ada tungku api, menjilat-jilat panasnya
Ingin kubuang, kubakar ,biar hilang, biar hangus aromanya
Pita kasetku menipis
Satu tahun terakhir aku menangis tanpa airmata
Dadaku sesak penuh gelora api membara
Bayang kecilku menjauh
Lalu menghilang…
Mungkin sembunyi dibalik lara
Aku ingin teriak, berlari
Mencuci najis dengan enam siraman dan satu tanah
Tiga puluh satu tahun aku merekam
Lalu menghilang…
Mungkin sembunyi dibalik lara
Aku ingin teriak, berlari
Mencuci najis dengan enam siraman dan satu tanah
Tiga puluh satu tahun aku merekam
Sebelumnya, trm ksh buat Ibu Dina Richlayani atas kepercayaan puisinya tuk ada di blog aku.
ReplyDeletePuisi Dia : Ada kemarahan yg tertuang karena kesetiaan di balas cuma dng kegampangan mempermainkan perasaan yg selama ada
Puisi Terluka tanpa darah : Mengharukan, ternyata takdir lebih kuat dari cinta yg pernah ada di dua hati
Puisi Kaset : seperti ada dendam dan geram yg dasyat, sampai disamakan dng najis berat
3 puisi dengan permainan kata yang sempurna :)
ReplyDeleteSarat emosi, gak ada satu bait pun yang missed
Hmm,
Coba kalo ada satu bait yg maknanya "Semoga saja ini terbaik bagimu"
Satu kalimat yg bisa meredam amarah+rasa kecewa menjadi ikhlas, karena memang bukan kita yg harus mengemis meminta sebuah keadilan, keputusan Tuhan lah keadilan untuk kita :)
Puisi yang bagus Bu Dina :)
Salam kenal