Muchtar Maulana
Ramadhan Tiba
Kubangan lumpur dosa dihati ini terlalu dalam
Tundukan diri sejenak
Bersihkan hati dari segala fana…
Bagai daun disiram embun pagi,
Aku menyambut tiga puluh malam dan tiga puluh hari yang suci ini …
Mentari pun menghangatkan setiap jiwa
Bulan selalu menaungi ibadah malam
Bulan ini telah mengucapkan “ selamat datang “ pada jiwa ini tuk kembali pada-Nya
Arif Yudianto
Sang Pengembala
Dia adalah sekat
Jika kau segores hakikat
Yang putih tetaplah jernih
Yang hitam tetaplah kelam
Dia adalah fatamorgana
Jika kau uforio tentangnya
Yang tabu adalah biru
Harum bunga adalah siksa
Dialah sewujud cinta
Terbit mentari kita ke sana
Senja menyapa pulanglah kita
Karena kitalah sang pengembala
Metri Pujiarto
Lampu Taman
Bising telinga aku
Mendengar langkah urbanisasi
Langkah dari jutaan harapan yang tinggi
Sedangkan di pusat kota begitu semilir
Hembusan angin dari teriakan keluh kesah
Bapak dan ibu menitipkan salam lewat do’a
Agar nanti aku beranjak bersahaja
Namun disini berbaur dengan sampah
Sisa-sisa tak berguna dari orang besar pemalsu sumpah
Gelap semakin redup…
Hilang sadar ku di trotoar jalan
Berharap lampu terangkan malam
Terima kasih tuk puisinya yang boleh dituangkan di blog aku; ka Utha, ka Arif n ka Metri
ReplyDelete